Labels

Tauhid Uluhiah


Pengertian secara bahasa tauhid uluhiah

Uluhiah sendiri diambil dari akar kata aliha-ya lahu-ilahan/uluhan.
Secara bahasa, kata aliha artinya: bertujuan, mendedikasikan diri kepada, mencintai sesuatu sepenuh hati, menghambakan diri kepadanya, bermonoloyalitas kepada …..
Dzat Yang dipertuhankan disebut ma’-luh. Dalam arti yang dicintai sepenuh hati, yang kepada-Nya kita bermonoloyalitas, yang terhadap-Nya kita menghambakan diri, dan seterusnya.
makhluk yang mengahambakan dirinya disebut alih, atau orang yang melakukan uluh. Jika kita melakukan uluuh maka berarti kita harus mencinta, menghambakan diri kepada, bermonoloyalitas kepada Dzat yang kepada-Nya kita ber-uluh.
Perbuatan makhluk ini disebut uluh. Kemudian, kata: uluuh yang diberi imbuhan yaa An-Nisbah -iyah.
Berdasarkan penjelasan di atas maka kata uluhiah semakna dengan ibadah.

Pengertian uluhiah secara istilah

Tauhid uluhiah adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam jenis-jenis peribadatan yang telah disyariatkan, seperti: shalat, puasa, zakat, haji, do’a, nadzar, sembelihan, berharap, cemas, takut, dan sebagainya yang tergolong jenis ibadah. Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal-hal tersebut dinamakan Tauhid uluhiah. Tauhid uluhiah merupakan kewajiban setiap hamba kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala.

Tauhid uluhiah merupakan inti dakwah para rasul

Allah mengutus para rasul dengan misi utama mengajak manusia agar beribadah kepada Allah semata. Itu artinya, misi mereka yang utama adalah mendakwahkan tauhid uluhiah. Diantara dalilnya adalah:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’.” (Q.S. An Nahl : 36)
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (Q.s. Al Anbiya’ : 25)
Allah menceritakan dakwah beberapa Rasul. Mereka memulai dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiah. Sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain.
Berikut ini beberapa kutipan ayat tentang hal itu:
Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi-mu selain-Nya.” (Q.s. Al A’raf: 59, 65, 73, 85)
Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepadaNya’.” (Q.s. Al Ankabut : 16)
Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyem-bah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama’.” (Q.s. Az Zumar : 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bersabda, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (H.r. Al Bukhari no. 25 dan Muslim no. 32)

Tauhid uluhiah merupakan kewajiban pertama setiap manusia

Kewajiban awal bagi setiap mukallaf (orang yang mendapat beban syariat) adalah bersaksi la ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), serta mengamalkannya. Ini utama dari persaksian ini adalah beriman bahwa Allah satu-satunya Dzat yang berhak dijadikan sebagai tujuan ibadah. Sedangkan semua makhluk yang diibadahi selain Allah adalah thaghut, yang wajib diingkari.
Itu artinya bahwa kewajiban awal manusia adalah melaksanakan konsekwensi dari tauhid uluhiah, dengan wujud amal hati, lisan, dan perbuatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu ….” (Q.s. Muhammad : 19)


Read more https://yufidia. com/tauhid-uluhiah/