Labels

Cara Cepat Membaca Alquran

Cara cepat membaca Alquran memang dibutuhkan bagi umat Islam yang hendak mempelajari atau memperbaiki bacaan Alqurannya, sehingga tidak sedikit orang gelang mencari cara cepat membaca Alquran baik secara langsung ataupun secara online.

Seperti diketahui bahwa membaca Alquran bagi umat Islam merupakan salah satu dasar yang harus dikuasai karena dengan bisa membaca Alquran mendapatkan pahala yang sangat banyak, karena memang pahala dari membaca al-quran dijanjikan oleh Allah dengan jumlah yang banyak bahkan tidak terbatas.

Sebenarnya sudah banyak metode-metode cara cepat membaca Alquran yang sudah ditulis dalam sebuah buku bahkan ketika kita malas membacanya maka kita bisa mendownload kajian-kajian seputar cara cepat membaca Alquran yang sudah tersebar banyak di internet.

Kita bisa mencari video-video seputar cara cepat membaca Alquran yang ada di YouTube tinggal kita pilih metode yang paling kita sukai Setelah itu kita berusaha mempraktekkan apa apa yang diajarkan di dalam video tersebut.

Diperlukan kesungguhan kesabaran dan tekad yang keras atau pantang menyerah saat kita mempelajari Al'quran karena ketika kita kehilangan sifat tersebut maka kecenderungannya kita akan membaca al-quran dengan asal-asalan.

Hal ini tentu saja tidak disarankan karena kita Disuruh membaca Alquran dengan Tartil sesuai dengan kaidah kaidah tajwid yang telah ditetapkan sehingga kita bisa membaca al-quran mengikuti cara membaca yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Cara cepat membaca Alquran 

Informasi Sekolah Agama Islam Swasta

Apabila kamu Mencari informasi seputar sekolah agama islam swasta, maka yang harus dilakukan adalah kita mengambil informasi data-data yang dimiliki dinas pendidikan, kita bisa mengatakannya kepada petugas-petugas atau guru-guru yang kemungkinan memiliki informasi tersebut.

Karena memang sekarang ini sudah cukup banyak sekolah dasar islam milik swasta atau yayasan yang ada di sekitar majalengka yang tentu saja memiliki keunggulan masing-masing sebagai nilai jual yang ditawarkan oleh pihak sekolah tersebut.

Ketika kita akan memasukan anak-anak kita ke sekolah islam milik swasta, pastikan kita memilih sekolah yang tidak terlalu banyak memiliki murid, karena memang untuk anak sd masih butuh perhatian dan bimbingan lebih banyak dibanding anak yang usia diatasnya.  Sekolah Agama Islam Swasta

Sekolah yang memiliki jumlah cukup banyak murid maka kemungkinan anak kita mendapatkan kualitas pendidikan terbaik tidak akan didapatkan, dikarenakan sekolah tersebut akan mengurus cukup banyak murid yang notabene masih susah untuk diatur.

Jadi kita tidak hanya sekedar memilih sekolah berdasarkan ketertarikan dari iklan semata, tetapi juga kita harus melihat lebih detail informasi bagaimana sekolah tersebut terutama terkait berapa jumlah murid yang ada atau yang akan diterima, apabila sekolah tersebut menerima jumlah murid sebanyak mungkin maka hampir dipastikan sekolah tersebut memiliki kualitas pendidikan yang tidak maksimal bagi anak kita. Sekolah Agama Islam Swasta

Mutiara Nasehat Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhuiyallahu ‘anhu


Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Manaqib dan biografi Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhu ditulis dalam beberapa jilid, namun ini hanyalah sekilas dari biografinya sebelum bercerita tentang dia. Dia adalah Abu Hafsh Umar bin Khaththab bin Nufail al-Adawy al-Qurasyi, nasabnya bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada Ka’ab bin Lu`ay. Dia masuk Islam pada tahun ke enam. Ada yang berpendapat tahun ke lima pada saat berusia kira-kira dua puluh enam tahun.

Dengan masuk islamnya Umar radhiyallahu ‘anhu, Islam menjadi kuat. Ia berhijrah secara terang-terangan[1], menghadiri perang Badar, Uhud dan semua peperangan. Ia adalah khalifah pertama yang dipanggil Amirul Mukminin, yang pertama-tama menulis kalender bagi kaum muslimin. Yang pertama kali mengumpulkan manusia untuk shalat Tarawih. Yang pertama-tama jaga malam hari dalam pekerjaannya, menaklukkan berbagai negeri[2], menentukan pajak, membangun berbagai kota, mengangkat para qadhi (hakim), melakukan pembukuan negara, memberikan tunjangan, dan berhaji bersama istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di akhir haji yang dilakukannya.

Dia memegang jabatan khalifah berdasarkan wasiat/penunjukan  dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu wafat pada malam selasa tanggal 23 Jumadil Akhir tahun ke 13 H, Umar radhiyallahu ‘anhu menerima jabatan khalifah di pagi hari wafatnya  Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Dia memegang jabatan khalifah sekitar sepuluh tahun. Ia dibunuh oleh Abu Lu`lu al-Farisi al-Majusi dengan senjata tajam di tubuhnya pada saat shalat Subuh, dan setelah itu ia masih hidup tiga malam. Ini adalah di akhir bulan Dzulhijjah tahun 23 H.

Adapun mutiara-mutiara nasehat yang diriwayatkan darinya sangatlah banyak, di antara mutiara nasehat tersebut adalah: Dari Miswar bin Makhramah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia bersama Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkunjung kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu (saat sakit, menjelang wafat), keduanya berkata: ‘Shalat, wahai Amirul Mukminin’, setelah pagi mulai terang. Ia menjawab:

« نَعَمْ ، وَلاَحَظَّ لِلْإِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ»

‘Ya, dan tidak ada bagian dalam Islam bagi siapasaja yang meninggalkan shalat.

lalu ia shalat, sedangkan luka masih mengeluarkan darah.Sesungguhnya engkau membaca nasehat Umar radhiyallahu ‘anhu ini tentang shalat di saat menjelang wafatnya dan menghadap alam akhirat, serta akan meninggalkan dunia, agar engkau mengingat wafat imam dan nabinyayang berpesan tentang shalat di saat menjelang wafatnya beliau:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « اَلصَّلاَةَ ، اَلصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ » [ أخرجه أحمد والحاكم  ]

(Perhatikan, jagalah) shalat, (perhatikan, jagalah) shalat dan budak budak kalian.’[3]

Sedangkan beliau sakit parah dan pingsan, lalu siuman, beliau tidak memulai ucapan selain pertanyaan ‘Apakah orang-orang (kaum muslimin) sudah shalat? kemudian beliau pingsan, kemudian siuman/sadar. Kemudian beliau mengulangi pertanyaan ‘Apakah orang orang sudah shalat?[4]

Inilah al-Faruq, mengulangi perjalanan sejarah, menelusuri lorong yang sama! Maka dia menasehati kita secara ucapan dan perbuatan: ‘Tidak ada bagian di dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat’. Adapun nasehatnya secara perbuatan, yaitu ketika dia shalat sementara lukanya masih meneteskan darah!

Sesungguhnya sikap seperti ini ditunjukkan bagi orang orang yang lalai dalam shalat hanya karena satu dari sekian banyak sebab, atau malah terus-menerus meninggalkannya –kita berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala- agama apakah yang masih tersisa apabila sudah gugur pondasinya?
Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu berkata:

« تَفَقَّهُوْا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوْا »

Tafaqqahu (belajarlah agama) sebelum kalian menjadi pejabat (pemimpin).’

Inilah nasehat agung yang disampaikan Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya secara mu’allaq (tanpa sanad) dan ia memberi komentar dengan kalimat: ‘Dan setelah menjadi penjabat (pemimpin), karena sesungguhnya para sahabat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam tetap belajar di usia senja mereka.

Imam al-Bukhari memberi komentar dengan ungkapan ‘Dan setelah menjadi pemimpin’ karena khawatir ada yang justru memahami dari kata-kata itu bahwa kepemimpinan bisa menghalangi dari belajar agama. Sesungguhnya yang dimaksudkan Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia bisa menjadi penghalang, karena pimpinan terkadang dihalangi oleh sikap sombong dan malu/enggan untuk duduk seperti duduknya para penuntut ilmu.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: ‘Apakah anak muda maju (sebagai pemimpin), berarti ia kehilangan ilmu yang sangat banyak.’Abu ‘Ubaid memberikan penjelasan ucapan Umar radhiyallahu ‘anhu di atas seraya berkata: ‘Belajarlah ilmu agama di saat kamu kecil sebelum engkau menjadi pemimpin, maka sikap sombong bisa menghalangimu mengambil (belajar ilmu agama) dari orang yang lebih rendah kedudukannya darimu, maka engkau tetap menjadi bodoh.’[5]

Al-Faruq mengisyaratkan dalam nasehatnya ini tentang penyakit yang mulai menular di dalam jiwa sebagian kaum muslimin, sebagaimana yang dijelaskan para imam. Akan tetapi apa yang dikatakan tentang orang yang tidak belajar, bukan karena terhalang tugas kepemimpinan, jabatan, kedudukan dan pangkat, namun ia dirintangi oleh sikap sombong untuk duduk belajar hanya karena usianya yang sudah tua?

Sesungguhnya dalam belajarnya para sahabat Nabi merupakan suri tauladan yang harus diikuti, seperti yang dikatakan oleh al-Bukhari rahimahullah. Sesungguhnya di antara yang menyebabkan kehinaan seorang laki-laki adalah kerelaannya dengan kebodohannya tentang persoalan agama yang dibutuhkannya, lalu ia tidak belajar dan tidak bertanya tentang hal itu!

Di antara gambaran yang orang-orang merasa terganggu karena sering diulang adalah: engkau melihat seorang pemuda –terlebih lagi orang yang sudah tua- melantunkan al-Qur`an dengan suara yang indah, kendati demikian ia enggan belajar di halaqah tahfizhul Qur`an, karena khawatir duduk di hadapan guru yang seusia anak-anaknya.

Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu berkata[6]:

« اَلتُّؤَدَةُ فِى كُلِّ شَيْئٍ خَيْرٌ  إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ أَمْرِ اْلآخِرَةِ »

Perlahan dalam segala perkara adalah baik, kecuali sesuatu dari perkara akhirat.’

Ini adalah pelurusan dari al-Faruq untuk pemahaman yang terkadang bercampur aduk terhadap sebagian orang. Hal itu karena bangsa Arab sepakat mencela sikap terburu-buru secara umum. Bangsa Arab memberinya gelar ‘Ummun-Nadamat’ (ibu/induk penyesalan). Mereka mempunyai hikmah-hikmah yang tersebar dan sya’ir-sya’ir yang masyhur (terkenal). Namun sesungguhnya pemahaman ini –seperti yang diungkapkan al-Faruq- tidak sepantasnya diberlakukan dalam urusan akhirat. Bahkan bersegara kepadanya sangat terpuji dan dituntut, karena manusia tidak pernah tahu kapan ajalnya memutuskannya, maka ia harus bersegera dan tidak menunda-nunda.

Apabila telah tiba kesempatan untuk beribadah dan memperbanyak dari pintu-pintu kebaikan, maka tidak baik perlahan lahan di sini, bahkan dicela. Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman dalam beberapa ayat:

﴿ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ [البقرة: 148

Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. (QS. al-Baqarah:148)

Di antara gambaran yang disebutkan para ulama bahwa ada beberapa perbuatan yang menjadi tercela akibat menunda-nunda dalam menunaikannya adalah: taubat, membayar hutang, memuliakan tamu, mengurus jenazah. Maka ia termasuk perkara perkara yang dianjurkan bersegera dan cepat-cepat dalam melaksanakannya menurut cara yang syar’i.

Termasuk yang dihubungkan dengan hal itu adalah: muhasabah (intropeksi) diri, maka tidak sepantasnya bagi orang yang mengharap Rabb-nya dan negeri akhirat menunda-nunda muhasabah dirinya, namun ia harus bersegera. Sebagaimana yang dikatakan al-Faruq radhiyallahu ‘anhuHisablah dirimu sebelum dihisab, timbanglah amal perbuatanmu sebelum kamu ditimbang, sesungguhnya lebih mudah bagimu dihisab besok (hari kiamat) bahwa kamu lebih dulu menghisab dirimu, hiasilah diri untuk penampilan yang besar, di hari kamu dihadapkan, tidak samar darimu sesuatu yang samar.![7]

Sangat banyak orang yang menunda-nunda dalam urusan akhirat pada akhirnya merasakan penyesalan. Al-Qur`an menjelaskan gambaran ini dalam beberapa tempat, seperti firman Allah Shubhanahu wa ta’ala:

﴿قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ {53} وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ {54} وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَآأُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لاَتَشْعُرُونَ {55} أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَى عَلَى مَافَرَّطتُ فِي جَنْبِ اللهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ {56} [الزمر: 53-56] 

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. *Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). * Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, * supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (QS. az-Zumar:53-56)

Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu berkata:

« لاَأُبَالِى عَلَى أَيِّ حَالٍ أَصْبَحْتُ! عَلَى مَا أُحِبُّ أَمْ عَلَى مَا أَكْرَهُ, ذلِكَ بِأَنِّي لَاأَدْرِي  الخِيرَةُ فِيْمَا أُحِبُّ أَمْ فِيْمَا أَكْرَهُ »

Aku tidak perduli di atas kondisi apapun aku di pagi hari, terhadap yang kucintai ataukah atas yang kubenci, penjelasan hal itu karena sesungguhnya aku tidak tahu, apakah kebaikan ada pada yang kucintai atau yang kubenci.’

Sungguh merupakan pelajaran yang dalam. Kita perlu melatih diri kita untuk mempelajarinya, mentarbiyah hati kita untuk hidup bersamanya.Alangkah banyak peristiwa yang kita alami, baik individu maupun sosial masyarakat, kita melihat nampaknya merupakan keburukan dan ternyata kebaikan ada padanya. Ini adalah seperti firman Allah Shubhanahu wa ta’ala

﴿ وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ [البقرة: 216] 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah:216)

Dan firman-Nya:

﴿ فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا   [النساء: 19] 

Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. an-Nisa`:19)

Sungguh terjadi  sekitar dua minggu yang lalu, dua orang saudara bercerita  tentang musibah yang dialaminya dan ia sangat tidak menyukainya. Demi Allah, aku tidak menemukan untukku dan keduanya penghibur kecuali mengingatkan dengan dua ayat ini, dan seperti yang disebutkan al-Faruq radhiyallahu ‘anhu. Hingga salah seorang darinya berkata kepadaku tatkala terjadi yang tidak disukai: ‘Demi Allah, sesungguhnya tatkala aku merenungkan ayat ini:

﴿ فَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا   [النساء: 19] 

Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. an-Nisa`:19)

Aku membacanya dengan tadabbur, aku mendapatkan rasa lapang dan ketenangan.

Sungguh sangat banyak problematika dalam kehidupan manusia dan sangat bervariasi, namun tetap ada Kalamullah (al-Qur`an al-Karim), Ucapan rasul-Nya, kemudian mutiara mutiara nasehat para sahabatnya yang menyejukkan, kita mengobati luka kehidupan dengannya.





[1]Sementara para sahabat lainnya hijrah secara sembunyi sembunyi.
[2]Al-A’lam karya Zirikly 5/45: di masa pemerintahannya selesai penaklukan Syam, Iraq, Baitul Maqdis, Mada’in, Mesir, Jazirah. Sehingga dikatakan: Di masa kekhalifahannya ada 12.000 minbar jum’at di dalam Islam.
[3]HR. Ahmad 12169, Hakim dalam Mustadrak 4388.
[4]HR. Al-Bukhari 687  dan Muslim 418.
[5]Fathul Bari karya Ibnu Hajar 1/166.
[6]Zuhd, karya Imam Ahmad hal 98.
[7]Zuhd karya imam Ahmad hal. 108.


Sumber:  https://islamhouse. com/id/articles/806120/


Pengajaran Al-Qur'an MEtode Ummi





Mutiara Nasehat Dzun Nuraian Utsman bin Affan radhiyalllahu ‘anhuiyallahu ‘anhu

Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dia adalah Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdu Syam  al-Qurasyi al-Umawi. Kun-yahnya yang terkenal adalah Abu Amr.

Dilahirkan di kota Mekkah dan masuk Islam beberapa saat setelah kebangkitan. Dia adalah seorang yang kaya serta mulia di masa jahiliyah.

Dia berhijrah ke Habasyah, lari dengan membawa agamanya, bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia adalah kelompok pertama yang berangkat ke sana dan diikuti oleh kalangan muhajirin lainnya ke negeri Habasyah, kemudian dia hijrah yang kedua ke Medinah.

Dia termasuk salah seorang tokoh yang Islam bertambah kuat di masa kemunculannya.

Di antara tindakannya yang terpenting di masa Islam adalah menyiapkan dana untuk setengah pasukan ‘usrah (perang Tabuk) dengan hartanya, dia menyumbang tiga ratus ekor unta dengan segala pelengkapnya dan menyumbang dana seribu dinar.

Diangkat menjadi khalifah setelah wafatnya Umar bin Khaththab radhiyalllahu ‘anhu pada tahun 23 H. Kota kota yang ditaklukkan di masa kekhalifahannya adalah Armenia, Quqaz, Khurasan, Karuman, Sijistan, beberapa negara di benua Afrika. Menyelesaikan pengumpulan al-Qur`an, dia yang pertama tama melakukan perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, menyuruh adzan pertama di hari Jum’at, mendirikan satuan kepolisian, dan lain lain.

Wafat sebagai syahid, dimana dia terbunuh pada tanggal 18 Dzulhijjah, pada hari Jum’at, tahun 35 H. di usianya yang ke delapan puluh dua.

Adapun mutiara mutiara yang diriwayatkan darinya sangatlah banyak. Barangkali kita memulai dengan nasehat yang menggambarkan bagi kita sedikit dari kehidupan Utsman radhiyalllahu ‘anhu bersama Kitab yang turun dari langit, di mana dia berkata[1]:

Jikalau hati kalian suci niscaya tidak pernah kenyang dari firman Allah subhanahu wa ta’ala  (al-Qur`an).’

Sesungguhnya ia adalah nasehat yang sangat indah, menggambarkan penyakit yang menghalangi di antara mayoritas manusia dan tidak mendapatkan manfaat dari al-Qur`an. Sesungguhnya ia adalah penyakit hati: berupa riya, (iri dengki), dendam, dan berbagai penyakit lainnya yang menghalangi seseorang untuk mendapatkan manfaat yang haq dari al-Kitab yang haq (al-Qur`an).

Sesungguhnya hati bagaikan bejana, apabila sudah penuh dengan sesuatu ia tidak bisa menerima yang lain. Apabila ia dipenuhi berbagai penyakit ini niscaya lemahlah pengaruh al-Qur`an terhadapnya, kecuali ia membacanya dengan tujuan mengobati dan menyembuhkannya, maka ini termasuk tujuan diturunkannya al-Qur`an. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَاهُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ﴾ [الإسراء: 82] 

Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. al-Isra`:82)

Sesungguhnya Utsman radhiyalllahu ‘anhu dengan katanya: (tidak kenyang) merupakan ungkapan yang sangat tepat. Di dalam hati ada rasa lapar yang tidak bisa ditutupi oleh sesuatu sebagaimana ditutupi  oleh bergantung dengan al-Qur`an, membaca, mendengar, tadabbur.

Utsman radhiyalllahu ‘anhu mengungkapkan kecintaannya terhadap Kalam Rabb-nya dan tidak pernah kenyang dengannya dengan ungkapannya:

                      Aku tidak suka bahwa datang kepadaku satu hari dan satu malam kecuali aku melihat kepada Kalamullah (firman Allah subhanahu wa ta’ala).’ Dan dalam satu lafazh: ‘Kepada perjanjian Allah subhanahu wa ta’ala’. Maksudnya adalah membaca mushhaf (al-Qur`an).
[2]

Ia mengatakan hal ini, sedangkan dia seorang khalifah kaum muslimin, yang di masa pemerintahannya terjadi penaklukan berbagai negeri yang sangat luas. Maka di manakah orang orang yang berlalu atasnya malam dan siang, sementara ia tidak sempat membuka selembar pun dari al-Qur`an, sedangkan ia tidak terikat tanggung jawab apa apa?

Di antara mutiara nasehat yang disampaikannya dalam khutbah menjelang akhir hayatnya adalah[3]:

‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan (kenikmatan) dunia kepadanya untuk mencari akhirat dengannya dan Dia subhanahu wa ta’ala tidak memberikannya kepadamu agar kamu menjadi cenderung kepadanya. Sesungguhnya dunia adalah fana, janganlah yang fana membuatmu sombong dan jangan sampai membuat engkau lupa dari yang kekal (akhirat). Utamakannya sesuatu yang kekal terhadap yang fana, karena sesungguhnya dunia akan terputus dan sungguh tempat kembali adalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bertaqwala kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena sesungguhnya taqwa kepada-Nya merupakan perisai dari siksa-Nya, memberi kedudukan yang tinggi di sisi-Nya. Tetaplah kamu berada dalam jama’ah (kaum muslimin, jangan memberontak) dan janganlah kamu menjadi berkelompok kelompok:

﴿ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا [آل عمران: 103] 


Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara. (QS.ali Imran:103)

Dan karena sudah begitu jelasnya pengertian yang disebutkannya radhiyalllahu ‘anhu dalam bab zuhud di dunia, maka tidak perlu dijelaskan secara panjang lebar.

Namun perlu dipertegas tentang nasehatnya yang terkait keharusan bersama jama’ah kaum muslimin, dia sudah melihat benih benih fitnah (kekacauan) sudah mulai bersemai, dia juga pernah merasakan pahitnya perpecahan di masa jahiliyah dan menikmati manisnya persatuan di dalam Islam lewat kedua tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah orang orang yang terlahir dalam umat yang bersatu memahami makna ini dan ingin memecah belah jama’ah umat Islam serta menggali lobang neraka –karena kebodohan mereka-.?

Di antara mutiara nasehatnya adalah[4]:

Tidak ada seorangpun yang melakukan amal perbuatan kecuali Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepadanya selendang amal perbuatannya.

Dan diriwayatkan  darinya bahwa ia berkata: ‘Tidak ada seseorang yang menyembunyikan rahasia kecuali Allah subhanahu wa ta’ala menampakkanya lewat raut wajahnya dan gerakan lisannya.

Dan ia juga berkata: ‘Jikalau seorang hamba memasuki rumah yang paling tersembunyi, lalu ia menekuni satu amal perbuatan di sana, tidak berselang waktu lama manusia akan membicarakannya. Tidak ada seorangpun yang melakukan amal perbuatan kecuali Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepadanya selendang amal perbuatannya, jika baik maka balasannya juga baik dan jika buruk maka balasannya juga buruk.’[5]

Sesungguhnya yang disebutkan oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiyalllahu ‘anhu dalam mutiara nasehatnya, merupakan petunjuk untuk kita agar bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam kesendirian kita, hendaklah kita beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan jujur dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, karena tidak ada keselamatan di dunia dan akhirat kecuali dengannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:


﴿ قَالَ اللهُ هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتُُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا رَّضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {119}﴾ [المائدة:119] 


Allah berfirman:"Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar". (QS. al-Maidah:119)


Dan sebaliknya, jika seseorang berusaha menyembunyikan  sesuatu yang berbeda dengan penampilan lahiriyahnya, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala akan menampakkannya, jika baik maka baiklah hasilnya dan jika buruk maka buruklah hasilnya, seperti yang dikatakan oleh Khalifah Utsman radhiyalllahu ‘anhu. Renungkanlah yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala tentang orang orang munafik:

﴿ وَلَوْ نَشَآءُ لأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ {30}﴾ [محمد:30] 

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya.Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu (QS. Muhammad:30)

Orang munafik ini berusaha menyembunyikan sifat nifaqnya maka Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Dia akan menampakkan perkara mereka dalam kesalahan ucapan mereka. Demikian pula seorang mukmin yang berusaha menyembunyikan imannya, seperti seorang mukmin dari keluarga Fir’aun dan istri Fir’aun, Allah subhanahu wa ta’ala akan menampakkan imannya lewat lisannya di hadapan orang orang yang menyimpang, maka celakalah bagi orang orang munafik dan bergembiralah bagi orang orang yang jujur.!

Di antara obat untuk menangani kekurangan dalam urusan rahasia, yaitu yang disebutkan oleh Salman radhiyalllahu ‘anhu: ‘Apabila engkau melakukan keburukan dalam kesendirian maka lakukanlah kebaikan dalam kesendirian, dan apabila engkau melakukan keburukan secara terang terangan maka lakukanlah kebaikan secara terbuka, agar hal ini sebanding dengan hal ini.’[6]

Di antara mutiara nasehatnya dalam persoalan jawaban kepemimpinan[7]:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala membuat takut dengan kekuasan sesuatu yang tidak menjadi takut dengan al-Qur`an.

Maksudnya ungkapan ini adalah: bahwa sebagian orang ada yang tidak terpengaruh dengan perintah dan larangan, rangsangan dan ancaman, akan tetapi tidak membuatnya berubah dengan ancaman penguasa/pemerintah dengan cambuk atau pedangnya, menurut kondisinya! Dari sinilah disyari’atkan hudud (hukuman), karena sebagian orang ada yang tidak bisa menerima nasehat, maka hukumanlah yang membuatnya berhenti, untuk menahan keburukannya dari dirinya dan manusia lainnya.

Di antara mutiara nasehatnya tentang minuman keras adalah[8]:

‘Hindarilah minuman keras, sesungguhnya ia adalah kunci segala keburukan! Dibawa seorang laki laki, lalu dikatakan kepadanya: ‘(Kamu harus melakukan salah satu dari beberapa perkara ini), bisa jadi membakar kitab ini, membunuh anak kecil ini, memperkosa wanita ini, meminum gelas berisi minuman keras ini dan sujud kepada salib ini! Ia berkata: maka ia tidak melihat padanya sesuatu yang paling ringan selain meminum arak. Tatkala ia meminumnya, ia sujud kepada salib, membunuh anak kecil, memperkosa wanita, dan membakar kitab!

Sesungguhnya ia adalah nasehat yang sarat pesan pesan penting, jikalau direnungkan oleh mereka yang biasa meminum induk segala keburukan, maka ia merusak agama, akal, dan harta mereka dan mencerai beraikan perkara mereka, niscaya mereka mendapatkan diagnosa untuk penyakit...cukuplah bagi seorang mukmin bahwa ia merenungkan dampak buruknya agar ia meninggalkannya, terlebih lagi dari ancaman al-Qur`an dan sunnah,  yang jikalau peminumnya memikirkan bahwa ia dikutuk lewat lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya ia akan berhenti melakukannya.

Dikatakan kepada Utsman radhiyalllahu ‘anhu: apakah yang menghalangimu meminum arak di masa jahiliyah, padahal tidak mengapa melakukannya di masa itu? Ia menjawab: ‘Sesungguhnya aku melihatnya menghilangkan akal secara menyeluruh, dan aku tidak melihat sesuatu yang menghilangkan secara menyeluruh dan kembali lagi secara menyeluruh.

Dan kita tutup dengan ungkapan yang dikatakannya dalam salah satu khuthbahnya:

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah keberuntungan, sesungguhnya manusia paling cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk sesudah kematian, serta berusaha untuk mendapatkan cahaya untuk kegelapan di alam kubur dari nur Allah subhanahu wa ta’ala. Hendaklah hamba merasa takut bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menggiringnya dalam kondisi buta padahal sebelumnya dia melihat. Ketahuilah, sesungguhnya siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala berpihak padanya niscaya ia tidak takut sesuatu, dan siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala memurkainya, maka siapakah yang bisa diharapkannya sesudah-Nya?

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai Khalifah ar-Rasyid Dzin Nuraian dan mengumpulkan kita dengannya di surga Adn.








[1] Zuhd, karya imam Ahmad hal 106
[2] Fadhailu Utsman, karya Abdullah bin Ahmad hal. 115.
[3] Al-Bidayah wan Nihayah 7/241.
[4] Fadha`il Utsman bin Affan radh, karya Abdullah bin Ahmad hal. 116.
[5] Az-Zuhd wa ar-Raqa`iq karya Ibnu Mubarak dan Zuhd karya Nu’iam bin Hammad 2/17.
[6] At-Taubah karya ibnu Abi Dun-ya 121.
[7] Al-Bidayah 1/12, al-Kamil fil Lughah 1/214.
[8] At-Tamhid 15/10.



Source:  https://islamhouse .com/id/articles/806127/